Sunday, August 21, 2016

DBD Alert!

Sejak merantau ke Kalimantan, tepatnya di Bontang, saya jadi merasa akhirnya bisa melihat langsung beberapa 'kasus' yang selama ini mungkin cuma terlihat di berita. Dulu ketika media massa ramai memberitakan kebakaran lahan, hampir setiap pagi di sini pemandangannya berubah seperti berkabut. Asap, bikin sesak. Kali ini, tentang DBD, penyakit berbahaya yang dibawa makhluk kecil bernama nyamuk.

Kata teman saya, biar kecil tapi mengena. Prinsip inilah yang mungkin juga diterapkan sama nyamuk-nyamuk Aedes aegepty itu. Badan kecil bukan halangan untuk melumpuhkan daya tahan manusia, siapapun dan kapanpun. Apalagi di tengah kondisi cuaca yang labil seperti sekarang ini. Eh di Bontang sih masih sering tiba-tiba hujan..

Beberapa minggu terakhir, media massa lokal mulai ramai mengulas DBD. Walikota pun sigap menyatakan Bontang darurat DBD dan mengumpulkan stakeholders terkait untuk bersama menanggulanginya. Dan hari ini, Badak LNG yang punya kepedulian tinggi terhadap masalah sosial di kota Bontang pun menunjukkan aksi nyatanya dengan melakukan program Penanggulangan DBD, Penyuluhan dan Fogging.

Dari penyuluhan, diketahui bahwa sebenarnya DBD ini bisa dicegah dengan melakukan "4M Plus", yaitu:

1. Menguras
Kuraslah wadah air yang ada di dalam bangunan misalnya bak mandi, tempayan, ember, vas bunga, termasuk juga tempat minum burung (atau hewan peliharaan lainnya) dan penampung air kulkas supaya telur dan jentik nyamuk Aedes mati. Jadi ingat kenapa dulu waktu kecil suka diingetin supaya rutin menguras bak mandi walaupun keliatannya airnya masih bersih :')

2. Menutup
Tutup rapat semua wadah air supaya nyamuk Aedes tidak bisa masuk dan bertelur. Ingat, siklusnya nyamuk ini cepat sekali loh dari telur - dewasa. Satu minggu! Maka kalau kita bisa memutus rantainya, mencegah mereka bertelur, ini udah lumayan banget untuk menekan angka DBD.

3. Mengubur
Selain kenangan, semua barang bekas yang ada di sekitar rumah dan berpotensi menampung air juga perlu dikubur atau dimusnahkan sekalian. Misalnya, ban bekas, botol minuman bekas atau sekedar pecahannya, bahkan kulit kacang. Benda-benda seperti ini bila tergenang air terutama air hujan, berpotensi menjadi tempat bersarang atau bertelurnya nyamuk. Ya kalau udah nggak dipakai mah memang lebih baik dibuang aja sih jauh-jauh :) #barang #sampah

4. Memantau
Pantaulah selalu semua wadah air yang  berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes. Termasuk selokan, parit, sungai... Inilah salah satu alasannya kenapa kita harus selalu menjaga kebersihan lingkungan. Jangan sampai luput sebelum terlambat.

5. Plus-plusnya
Selain 4M di atas, pencegahan DBD juga bisa dilakukan dengan melakukan 4plus lagi yaitu tidak menggantung baju, memelihara ikan, menaburkan abate (beli sendiri aja, jangan dipaksa sama petugas abal :))) ), dan tidur menggunakan kelambu.

Satu tambahan lagi, biasakan menghabiskan minuman dalam kemasan gelas. Dari hasil kerja bakti pagi tadi, saya juga baru sadar bahwa sisa-sisa air di minuman gelas tetap berpotensi menjadi sarang nyamuk. Apalagi kalau sampahnya dibuang sembarangan.

Kalau lima poin tadi dilaksanakan rutin minimal seminggu sekali, insyaAllah nyamuk Aedes nggak akan mampir untuk sekedar menggigit apalagi bertelur. Lima poin ini juga penting untuk dilakukan selain fogging karena fogging ternyata cuma membunuh nyamuk dewasa, nggak mempan untuk jentik-jentiknya. Malah manusianya yang suka pusing kena sisa-sisa asap fogging :__)) #pengalaman.

Semoga wabah DBD ini nggak menyebar ke mana-mana. Mari lebih peka. :)

Friday, August 12, 2016

Truly Reviving Night with @NOAH_ID

How’s your weekend?

Biasanya kalau mendapat pertanyaan itu di kelas bahasa Inggris pagi, saya akan menjawabnya ‘nothing special’. Pagi ini, kalau ditanya lagi, jawabannya akan berubah menjadi 'Great!’

Yes, weekend kemarin adalah salah satu mimpi sempurna yang terwujud. Bukan pas weekend sih tepatnya, Jumat (6/6).

Saya berkesempatan menonton konser eksklusif Noah.  Gratis. Sejam. Di Jakarta.

Bukan hasil menang kuis, tapi kebetulan salah satu temen yang kerja di promotornya memberikan satu tiket for free. Beneran gratis, nggak ada syarat harus ngetwit atau semacamnya. The power of networking!

Kebahagiaan ini dilengkapi dengan restu orang tua yang akhirnya ngijinin anaknya ngebolang ke Ibukota. Dan proses ngurus ijinnya nggak pake ribet hehehe. Serius deh, kalau nggak dapet ijin juga nggak akan berani pergi.

Begitu juga dengan 'Mamak’ di kantor yang ternyata ngasih cuti. Sebenernya saya berencana masuk setengah hari aja karena belum setahun kerja, belum ada jatah cuti. Tapi ternyata ada kebijakan baru jadi saya bisa ngambil jatah perdana. Syalalalala~

Konser eksklusif ini sebenernya diadain sama salah satu produk minuman yang mengangkat Noah sebagai ambassadornya. Tempatnya di Hardrock Cafe Pacific Place. Pintu dibuka jam 19.00 dan udah nyampe PP dari jam 14.00-an sebenernya bikin rada sekip. PP bukan mal yang 'ramah’ menurut saya, baik buat keuangan maupun hati.

Setelah Maghrib, saya akhirnya nemu cafenya. Juga ketemu temen yang berbaik hati ngasih tiket itu. Ternyata antrian udah lumayan panjang dan bisa ditebak, didominasi cewek (atau tante-tante).

Sebenernya malam itu saya berencana nonton sama salah satu temen kampus yang sekalian mau ngeliput konsernya. Sayang, dia belum juga dateng dan antrian makin panjang. Jadilah saya ngantri duluan demi mendapat posisi berdiri tepat di depan panggung. Maaf ya, kalau untuk mencapai mimpi, kadang harus berani 'jalan duluan’, hehe.

Sebenernya lagi, perasaan saya udah nggak seantusias dulu. Seneng, tapi biasa aja. Nggak deg-degan. Malah lebih terharu waktu dapet kesempatan liputan single Dara pas Ariel masih di Kebon Waru.

Tapi ternyata waktu akhirnya Ariel cs naik ke panggung, rasa antusias itu kembali ada. Apalagi jaraknya berasa deket banget dan nggak perlu struggle sama kamera-kamera raksasa para pekerja infotainment. Bahagiaaaaa!

Ada sekitar 10 lagu yang mereka mainkan. Kebanyakan dari album terbaru yang saya nggak terlalu hafal judul apalagi liriknya. Kalau dari album pertama & keduanya kan udah sampai khatam urutan lagu di kasetnya :p.

Walaupun nggak membawakan dua lagu kesukaan, malam itu Noah tetep tampil memukau. Beberapa lagu yang bikin saya ikut ngegigs di antaranya Menghapus Jejakmu, Walau Habis Terang, Langit Tak Mendengar,  dan Topeng yang juga menjadi lagu penutup. 


Karena ini adalah pengalaman pertama nonton Noah sambil berdiri tepat di depan panggung, saya juga sambil memerhatikan lingkungan sekitar. Tepatnya, beberapa penonton yang cukup ngeganggu kenyamanan.

Salah satu tipe penonton yang bikin pengen ngejitak adalah mbak mbak mungil yang berdiri di belakang saya. Bukan salahku punya badan tinggi~~ . Waktu pertama kali mau ambil gambar, mbak mungil ini menegur saya karena menghalangi pandangannya. Oke, teguran ini bisa diterima dan akhirnya tiap ngambil gambar saya pakai angle dari bawah. Ternyata, mba mungil ini malah 'membalas’ dengan kealayannya. Belum cukup doski memekik tepat di telinga saya (ini yang paling bikin pengen ngejitak), dia juga menyerukan kalimat semacam “Mau dooong jadi handuknyaaaa” waktu Ariel ngelap keringet atau “Ukiiiiii…jambangnya ga nahaaaannnn”. Pelis mbak.

Penonton lain yang juga bikin emosi massa (kalau ini beneran bikin kesel penonton lain :)) ) adalah mbak mbak yang berkesempatan ngasih pertanyaan buat Noah. Bukannya nanya hal penting semacam kapan album baru keluar dll, doski malah menanyakan masalah pribadi Ariel. Situ pekerja infotainment?

Terlepas dari hal-hal yang nggak penting tapi rada ngeselin tadi,  konser malam itu luar biasa. Nggak rugi bela-belain dari Bandung sendirian cuma buat nonton. Nggak capek bela-belain berdiri sekitar tiga jam karena sambil diajak nyanyi bareng. Rasanya semua keruwetan pikiran hilang seketika. Otak (sama hati) siap diisi lagi sama hal-hal baru. Bahagiaaaaaaa baaangeeeettttt!


Jadi, terima kasih Semesta sudah berkonspirasi mewujudkan salah satu Mimpi yang Sempurna milik saya. Saatnya mewujudkan mimpi-mimpi lain lagi, misalnya wawancara eksklusif bareng Noah-nya. Ini belum kepikiran gimana cara dan kesempatannya, tapi semoga aja nanti ada jalannya. Have a nice day all! :D

*pertama kali dipublikasikan di Tumblr pada Juni 2014. Diposting ulang untuk #KonserTerbaikGue Writing Competition.

Yudistyana's Kitchen: Tumis Sawi Hijau Ala-ala

"Dia mah paling bisanya cuma masak mi!"

"Enggak kok, aku juga bisa masak telor! :p"

Saya lupa sejak kapan mulai terbiasa (baca: terpaksa bisa) masak. Mungkin sejak kuliah dan tinggal sendiri di rumah. Antara bosan sama makanan di luar yang kadang rasanya nggak sesuai selera dan memang ingin bereksperimen mencoba resep. Nggak yang ribet kok, masakan rumahan saja. Yang cukup dimakan buat porsi berdua (karena saya tinggal sama adik) atau berempat kalau kebetulan kedua orang tua lagi berkunjung.

Kebiasaan ini kembali berkembang setelah saya merantau ke Bontang. Alhamdulillahnya di sini juga disediakan rumah dinas plus dapur minimalisnya sehingga 'hobi' memasak bisa tersalurkan. Tantangannya cuma satu: bahannya susah! Nyari ceker aja duh ampuuuun! Kalaupun ada di pasar, biasanya nggak bisa dibeli karena sudah dipesan. Mau masak sayur, kalau beli dari warung dekat perumahan, terbatas sekali pilihannya.

Salah satu solusinya, saya mencoba membeli sayur dari kebun hidroponik mitra binaannya Badak LNG. Waktu pertama kali kunjungan lapangan ke tempat ini, saya langsung suka. Segar banget suasananya, sayuran di mana-mana. Apalagi kalau menemukan tanaman yang saya kenal, rasanya ingin langsung memetik dan mengolahnya menjadi makanan.

Kali kedua berkunjung, saya akhirnya bisa membeli beberapa sayur. Dengan Rp 20.000,00 yang kebetulan ada di saku jaket, saya mendapatkan sekeresek sedang sawi hijau, seledri, selada, dan daun mint. Saat ini yang sedang panen banyak memang sawi hijau, jadi sayur inilah yang jumlahnya banyak.



Sawi hijau bukanlah jenis bahan baku utama yang sering saya olah. Baru ngeh malah, sayur ini ternyata yang sering ada di bakso, nasi goreng atau mi goreng tek-tek, dan mi kuah sebagai sayuran pendamping. Biasa kan tinggal makan.. :))

Mumpung masih segar, saya langsung mengolah beberapa lembar sawi itu untuk menu makan malam. Berbekal aneka informasi dari Cookpad, ketemulah resep yang keliatannya enak: Tumis Sawi Hijau. Ini dia resep dan cara memasaknya dengan sedikit modifikasi:

Bahan:
Sawi hijau segenggam, cuci bersih lalu iris
Cabe keriting, iris
Cabe rawit, iris
Bawang merah, iris
Bawang putih, iris
Bawang bombay, iris
Telur ayam
Daging iris (kalau saya pakai daging yang untuk isian burger, bisa juga diganti dengan sosis/bakso)
Mentega untuk menumis
Saos tiram
Air secukupnya
Garam
Gula pasir
Terasi (kalau suka)
Tomat (kalau suka)
Penyedap rasa (kalau suka)
Bawang goreng (kalau suka)

Cara Memasak:
1. Haluskan irisan cabe-cabean dan bawang-bawangan (kecuali bawang bombay) bersama garam, gula pasir, dan terasi
2. Panaskan mentega, tumis semua bumbu halus sampai tercium harumnya.
3. Masukkan daging iris dan bawang bombay, tumis sampai agak matang dan harum.
4. Masukkan telur, buat orak-arik.
5. Masukkan sawi hijau, tambahkan sedikit air, saos tiram, dan penyedap rasa serta tomat.
6. Setelah sayuran agak empuk dan rasanya pas, sajikan.
7. Taburkan bawang goreng supaya lebih nikmat.

Simpel kan? Iya, masak itu nggak perlu ribet kok. Yang penting kualitas bahannya terjamin dan rasanya sesuai selera. Karena resep ini dimodifikasi, setelah disajikan bersama nasi putih hangat malah jadi terlihat seperti nasi gila sih sebenarnya. Tapi nggak papalah, tetap layak makan kok hehe.



Gimana, berminat mencoba resep ini? Atau resep lainnya yang pernah saya share? ;)






Monday, August 8, 2016

How You Met Your Partner?

Mendapat berita rencana dan undangan pernikahan secara bertubi-tubi dalam waktu dekat belakangan ini, sejujurnya membuat saya kembali sering memikirkan mengenai 'resolusi ketiga'. Salah satu goal & objective individu yang sampai saat ini progressnya masih gitu-gitu aja karena kadang juga masih bingung sendiri: mau mulai dari mana?

Beberapa orang yang saya tanya pendapatnya memberikan jawaban yang kurang memuaskan. Begitupun dari artikel-artikel tentang relationship, rasanya kok belum ada yang pas untuk diterapkan hehe. Akhirnya, saya memilih belajar dari pengalaman orang-orang. Menjadi sering bertanya, "Dulu ketemunya gimana?" kepada mereka yang sudah (mungkin merasa?) berhasil menemukan 'the right one'.

Salah satu teman saya yang akan menikah bulan depan bertemu dengan calon suaminya ketika sedang menyeberang jalan dari tempat tinggal ke kantor (iya, jarak kantornya sedekat itu memang hehehe). Si calon suami pernah melintas di jalanan itu sambil senyum, teman saya yang sedang berjalan bersama beberapa orang lainnya melihat, teman saya ini kebetulan juga suka tapi nggak mau geer si masnya tadi senyum untuk siapa. Dia juga mengaku beberapa kali melihat si mas itu melintas dekat kantornya, tapi masih belum tahu siapa dia.

Singkat cerita pada suatu hari, teman sekantornya merencanakan blind date untuk dia. Dan Semesta pun bekerja, pasangan blind datenya adalah si mas mas yang pernah melintas di jalan depan kantornya itu sambil senyum! Surprisenya lagi, sebenarnya mereka sudah pernah, bahkan sering bertemu di masa awal bekerja alias probation. Sayang, pada saat itu keduanya belum ada 'rasa'. Setelah blind date itu, keduanya jadi aktif berkomunikasi, jalan bareng, menjalin hubungan, dan pada akhirnya berani memutuskan akan hidup bersama. Rentang waktu dari blind date sampai mereka (akan) menikah adalah satu tahun.

Orang kedua yang saya kepo cerita 'pertemuan pertama'nya kebetulan adalah kakek jauh saya. Dengan semangatnya, baru-baru ini dia menceritakan perjuangannya untuk mendapatkan hati sang nenek (beserta keluarga terutama ayahnya! :)) ) selama setahun lebih.

Bagaimana dia bertemu sang nenek? Suatu hari, sang kakek berada di bengkel temannya untuk memperbaiki kendaraannya. Saat menunggu, melintaslah sang nenek keluar dari rumahnya yang memang dekat bengkel itu. Kakek ini penasaran dan berusaha mencari informasi dari temannya. Dengan menyebutkan ciri-ciri sang nenek, temannya memberi petunjuk bahwa gadis idamannya selalu pergi tarawih di masjid bersama keluarganya lewat jalan yang sama. Sang kakek pun mencegatnya. Mereka berkenalan, jalan bareng, dan akhirnya sang kakek berani melamar pujaan hatinya, membentuk keluarga bahagia sampai saat ini :').

Cerita yang agak-agak mirip FTV juga ada. Pelakunya adalah pejuang LDR yang sudah menjalin hubungan selama enam tahun lebih dengan pacarnya. Memasuki tahun ketujuh, teman saya ini (cewe) baru tahu bahwa dia punya sepupu jauh (sekali) yang tinggal di kota yang sama dengannya. Awalnya mereka sering bertemu sebagai saudara. Selang seminggu, entah apa yang Semesta rencanakan, perasaan itu berubah. Teman saya memutuskan menjalin hubungan yang lebih serius dengan orang yang baru dikenalnya selama seminggu dan rela melepaskan orang yang sudah bertahun-tahun 'menemaninya'. Satu caturwulan kemudian (hayooo berapa lama? :)) ), keduanya memutuskan untuk menikah dan tentu saja sudah mendapat restu keluarga masing-masing. 

Lain lagi cerita salah satu sahabat yang baru-baru ini menikah. Suaminya dulu adalah salah satu senior sekaligus tutornya untuk persiapan lomba yang dia ikuti di kampus. Cerita mereka semacam perpaduan antara 'right man in the right time' yang berpadu dengan pepatah klasik 'witing tresno jalaran saka kulina'. Sahabat saya abis patah hati, dia mengobatinya dengan ikut lomba di kampus, ternyata tutornya memang sebenarnya sudah menyimpan rasa kepada dia, dan kesempatan untuk mengungkapkan itu akhirnya ada.

And theeeen...they live happilyyyy....~~

Sejauh pengamatan saya, ternyata sebenarnya sosok 'the right one' itu kadang nggak jauh dari kita. Sudah dekat. Sedekat pernah berada di circle yang sama. Sedekat tinggal di wilayah yang sama. Sedekat memiliki banyak kesamaan lainnya.

Lalu kalau ternyata sudah dekat, harus bagaimana?

Kalau kamu mengalami atau punya cerita yang unik tentang "Dulu ketemunya gimana?", share juga doong :)

Sunday, July 24, 2016

Siap Atau Belum Siap, Itukah Pertanyaannya?

Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa teman seangkatan kerja diundang ke pernikahan salah satu putrinya mitra kerja. Lokasinya cukup berbeda dari resepsi pernikahan pada umumnya, di GOR salah satu perusahaan. Boleh juga idenya, pikir saya, cukup bisa menghemat anggaran untuk kursi karena para tamu bisa duduk di kursi tribun yang memang sudah tersedia hehehe.

Sambil memilih hidangan apa lagi yang akan disantap setelah Kambing Guling, saya memandang ke arah pelaminan. Dengan posisi duduk di tribun, pemandangan di area resepsi itu cukup luas terlihat. Kedua mempelai beserta keluarga seolah nggak lelah memberikan senyum kepada para tamu yang datang dan memberikan doa restu. Sementara itu anggota keluarga mereka yang lain juga turut larut dalam keceriaan, bahkan ada yang menyumbang beberapa lagu untuk sang mempelai.

Pikiran kemudian beralih ke keluarga besar. Dengan randomnya, satu pertanyaan terlintas, "Seru ya mengadakan acara nikahan seperti ini! Kok kayaknya di keluarga besar (dari pihak Bapak maupun Ibu) udah jarang banget ada acara kayak gini. Kapan terakhir kali merasakan euforia menjadi 'keluarga mempelai' ya?"

Kerandoman ini mungkin disebabkan oleh Kambing Guling!

Karena nggak lama kemudian saya tersadar...

..kalau sesuai 'urutan' usia, cucu perempuan yang masih available dari kedua keluarga besar ya saya! Yang artinya sangat potensial ada acara nikahan itu kalau.... :____))))

Secara ya, biasanya kan keluarga mempelai perempuan yang lebih bersemangat dan punya kontribusi lebih besar (atau memang wajib?) mengurus ini itunya dalam sebuah acara pernikahan.

Well, karena jarang ketemu keluarga besar, sejauh ini saya masih minim digerecokin pertanyaan 'Kapan' itu. Nggak tau ya kalau ternyata mereka nanyanya ke orang tua :(.

Menikah, bagi saya, adalah resolusi ketiga terbesar dalam hidup yang ingin sekali dicapai dengan baik. Dua resolusi sebelumnya Alhamdulillah sudah diperoleh, dengan proses yang lumayan membuat jatuh bangun tapi pada akhirnya indah. Kadang saya berpikir, mungkin karena 'hal ini' saya jadikan sebagai resolusi ketiga, tantangan yang dihadapinya akan sedikit lebih tinggi plus waktu ujiannya.. diperpanjang? .__.

Suatu hari, saya pernah chit-chat dengan salah satu teman dan tercetuslah pernyataan bahwa, "Saya ingin meraihnya (resolusi ketiga), tapi kok sampai sekarang belum kepikiran dengan segala printilan untuk merayakan 'hal itu' ya?"

Kadang ada kan, seseorang yang sudah benar-benar ingiiiiin sekali meraihnya sampai sudah merancang konsep perayaannya mau seperti apa, baju yang akan dikenakannya model gimana, dan blablabla lainnya. Sejauh ini 'persiapan' saya kalau untuk perayaannya baru sebatas follow beberapa akun tempat berkumpulnya vendor wedding party (semacam Bride Story etc), kepoin beberapa desainnya Vera Kebaya, dan.. 'menilai calon yang potensial'.

Saya lebih tertarik mempersiapkan kehidupan nyata setelah sebuah pesta untuk 'hal itu'. Untuk menjadi pendamping, makmum, 'manajer' keluarga... apapun predikatnya kelak. Beberapa persiapan sebenarnya sudah dicicil, yang terlihat jelas mungkin sejak SMA dan tinggal di asrama. Belajar membiasakan diri hidup bersih dan rapi, belajar disiplin, dan ilmu lainnya yang nggak dipelajari secara teoritis.

Mungkin kerandoman ini jugalah yang membuat saya menemukan artikel ini di tengah memikirkan jawaban baru kalau ditanya 'Kapan?': 14 Pertanda Bahwa Kamu Sebenarnya Sudah Siap Menikah.

Ehm, coba sedikit dibahas versi saya ya..

1. Kamu tahu betul prioritasmu dan pandai mengaturnya.
Untuk beberapa hal, ya.

2. Time management-mu walau belum sempurna tapi setidaknya sudah berjalan lebih baik setiap harinya
Kalau menurut orang yang sering berinteraksi dengan saya sih, saya 'masih belum pintar' di bidang ini :__))

3. Selalu belajar untuk tidak egois dan mengerti kebahagiaan calon istri atau suamimu juga sepenting kebahagiaanmu.
Kalau orang lain apalagi orang terdekat bahagia, InsyaAllah saya juga ikut bahagia.. :)


4. Selain bisa memimpin dirimu sendiri, kamu juga bisa memimpin orang terdekatmu.
Mmm ini perlu minta pendapat orang-orang dekat sih sebenarnya, tapi kalau di keseharian terutama untuk hal-hal yang sederhana, seringnya pendapat saya cukup diterima dan diterapkan sih (misal: memutuskan tempat makan siang/malam! :p)


5. Kamu sudah bisa mengatur keuanganmu sendiri hingga stabil.
Alhamdulillah..kalau dibilang stabil ya sudah..dan masih terus belajar mengaturnya :)

6. Kamu bisa berpikir lebih dewasa dan terbuka terhadap banyak hal.
Bisa kok (semoga)

7. Emosimu juga sudah bisa dibilang stabil.
Udah. Bahkan untuk menghadapi beberapa orang/masalah bisa cenderung tiis saking stabilnya :)))

8. Kamu bisa menoleransi perbedaan.
Iya, nggak perlulah debat panjang lebar kalau menghadapi perbedaan atau mempertahankan argumen, apalagi kalau yang dihadapinya keras kepala~ IMHO, sih.

9. Kamu sadar betul hidupmu nggak akan sebebas pas kamu single.
Sadaaaarrrr :__))))


10. Kamu bisa menyesuaikan sikap dan perilakumu di berbagai keadaan.
Bisa, walau kadang mungkin keceplosan agak 'bocah' :p

11. Kamu nggak akan mengambil keputusan berdasarkan perasaan.
Untuk beberapa hal, keputusan yang akan diambil juga perlu mempertimbangkan aspek perasaan sih.. tapi ya tetap seimbanglah sama logika.. penilaiannya yang menyeluruh dulu

12. Kamu tahu tujuan hidupmu.
Tujuan hidup sudah dirancang dari jaman kuliah. Sebenarnya ada tiga resolusi besar sebagai tujuan hidup. Berhubung resolusi ketiganya masih dalam proses, saat ini sambil memperjuangkan yang lain dulu. Mau nemenin? :') #eh


13. Kamu sadar bahwa ketika menikah nanti, belum tentu impianmu bisa terwujud.
Iya, makanya beberapa mimpi berusaha dicapai sambil memperjuangkan resolusi ketiga ini.

14. Kamu siap berkorban untuk keluargamu, baik suami atau istri dan anakmu (kelak).
InsyaAllah siap

Jadi simpulannya?

Kalau kadang saya menjawab 'Kapan' dengan bercanda, bukan berarti saya sama sekali nggak ada usaha. Nggak semua usaha perlu dipamerkan, nggak semua hal tentang 'Kapan' perlu seperti dilombakan atau sesuai urutan.

Kalau berdasarkan empat belas pertanyaan ini, memang masih ada beberapa poin yang sepertinya saya 'belum siap'. Tapi 'hal itu' sesungguhnya lebih luas dari sekedar '14 Siap' ini kan. Mungkin kita nggak pernah tahu kapan benar-benar siap, tapi Sang Pencipta pasti sudah punya jawabannya untuk kita.

Terus berusaha, dan berdoa. Ini aja kan kunci utamanya? :')





Thursday, July 21, 2016

Belajar Mengapresiasi

Kemarin malam, saya iseng membuka folder-folder jaman kuliah. Di jurusan Jurnalistik Fikom Unpad (alias 'Jurnal), pada masa itu terkenal dengan 'kerajinannya' memberikan tugas kepada mahasiswa. Bukan setiap minggu, melainkan nyaris setiap mata kuliah.

Dulu, penjurusan dimulai di semester 3. Selama dua semester awal, kami diberikan mata kuliah dasar dan pengantar, salah satunya Pengantar Ilmu Jurnalistik (sebut saja PIJ). Kebetulan, kelas saya mendapat dosen PIJ yang memang 'suhu'nya jurusan Jurnal. Dibandingkan kelas lain, kelas kami serasa diperlakukan sudah seperti anak Jurnal. Ritme tugas tinggi, plus menuntut kualitas yang baik pula.

Kalau digambarkan dengan emoticon Whatsapp, perjalanan saya saat itu adalah emoticon menangis sambil ketawa. Tau kan? Artinya, sering rasanya mau nangis karena tugas-tugasnya nggak mudah, sering dikritik pedas oleh dosen, bahkan nggak jarang dikembalikan untuk direvisi. Di sisi lain, rasanya mau ketawa juga karena Jurnal memang jurusan pilihan saya sejak masuk kuliah sehingga saya harus bisa menjalaninya dengan baik. *setel lagu 'Tabah'*

Salah satu ciri khas tugas jurusan Jurnal adalah 'apresiasi'. Tugas ini diberikan oleh salah satu dosen senior. Yang itu tadi, yang sudah saya temui sejak semester 2 sementara teman-teman saya baru bertemu dengannya di semester 3. Lumayanlah, enam bulan 'pendekatan' dengan gaya mengajarnya :___))).

Hampir setiap minggunya, dosen kami ini memberikan tugas mengapresiasi. Mulai dari buku, berita di koran, majalah, film, dan... apa lagi ya, begitu lah kurang lebihnya. Jeda waktu pengumpulan tugas adalah satu minggu dan tidak boleh telat sedetikpun. Disiplin sekali memang, tapi inilah yang membuat kami menjadi lebih menghargai waktu.

Meski untuk mata kuliah yang berbeda, format Tugas Apresiasi ini selalu sama. Ada empat bagian yang harus kami cantumkan sebagai bentuk 'apresiasi' terhadap karya yang ditunjuk: Rangkuman, Pembahasan, Simpulan dan Saran, Pertanyaan. Tidak kurang, tidak lebih. Dan semua ditulis dengan jenis serta ukuran font yang sama, plus margin yang sama pula. Nggak kebayang ih dulu bisa aja menjalani semua itu! :))))

Rasa bosan tentu kadang ada. Apalagi saya sudah mendapat 'bonus' satu semester mengerjakan tugas ini. Untungnya, saat itu ada beberapa hal yang menjadi sedikit penyemangat kalau sedang (atau sering) stuck mengerjakan tugas. Ingat lagi motivasi awal kuliah, demi nilai, cita-cita, plus ada yang nemenin begadang ngerjain tugas :") (baca: teman-teman sekelas yang juga stuck dan malah berujung chit-chat via YM).

Belakangan, apalagi setelah memasuki dunia kerja di korporasi, saya baru merasakan nilai lain yang diperoleh dari Tugas Apresiasi ini. Betul, intinya, belajar menghargai karya orang lain. Nggak gampang loh bagi seseorang untuk mengeluarkan karya yang berbobot seperti buku ajar, berita, film, atau produk lainnya. Kalau kita yang diminta membuat produk seperti itu juga belum tentu bisa menghasilkan kualitas yang sama bagusnya kan?

Dari empat bagian Tugas Apresiasi yang itu-itu aja, saya jadi belajar bahwa mengapresiasi dimulai dengan mengetahui betul apa yang akan kita apresiasi. Seperti di Rangkuman, kita perlu mengenal dulu apa atau siapa yang akan kita beri apresiasi. Seperti apa profilnya. Apa yang sudah dia hasilkan. Bagaimana prosesnya. Dan lain-lain.

Setelah mengenal, barulah kita bisa memberikan penilaian. Ini seperti ada di tahap Pembahasan. Bagi saya, inilah inti dari pemberian apresiasi. Meski penilaian bisa berarti baik atau buruk, maupun objektif atau subjektif. Sesungguhnya, memberi penilaian yang buruk bisa sama menyakitkannya dengan menerima nilai jelek alias kritikan. Apalagi kalau penilaiannya subjektif, hanya berdasarkan selera. Namun, semakin kita dikritik, pada akhirnya kita semakin tahu dan bisa memilah, mana kritik yang perlu didengarkan dan ditindaklanjuti, mana yang perlu disenyumi saja (sambil ngedumel dalam hati).

Saya nggak alergi kritikan atau mendapat penilaian buruk. Selama memang jelas alasannya, ada landasannya, berdasarkan fakta atau apapun penguat lainnya, kritikan adalah obat pahit yang akan membuat kita menjadi tumbuh dan semakin kuat. Seperti kata seseorang, "..pahit di awal, manis di akhir." Tapi ya ingat, nggak semua kritikan perlu diresapi apalagi pakai hati. Bisa stress nanti kalau nggak dipilah!

Ibaratnya kalau lagi mengerjakan bagian Pembahasan, kami dibebaskan memberi penilaian baik atau buruk terhadap karya yang sedang diapresiasi. Namun, harus ada opini penjelasan plus pendukungnya. Ada pembanding atau referensi lain. Untuk menilai sebuah film tentang perjuangan jurnalis mengejar narasumber, misalnya, kami boleh mengatakan film itu bagus karena sesuai fakta di lapangan atau justru sebaliknya, film itu jelek karena menyimpang dari teori yang seharusnya.

Jadi, tidak asal menilai. Bukan asal mengkritik. Apalagi kalau menilainya pakai emosi dulu. Bye!

Tahap berikutnya dalam mengapresiasi adalah membuat Simpulan dan Saran. Sederhananya, ini adalah gabungan dari Rangkuman dan Pembahasan. Kalau kita sudah tahu profil orang atau produknya, bisa menilai dengan tepat, pada akhirnya kita bisa membuat simpulan yang bijak. Apakah kita akan terus menjalin relasi dengan orang itu, apakah kita akan tetap menggunakan produk itu, semacam itu lah. Kalau pada tahap sebelumnya kita sudah memberikan penilaian yang kurang baik, seimbangkanlah dengan pemberian masukan yang membangun. Sekali lagi, sebaiknya tidak asal menilai.

Sebagai tahap akhir Tugas Apresiasi, dosen kami selalu mewajibkan mahasiswa mengajukan minimal lima pertanyaan di bagian Pertanyaan. Katanya, untuk mengasah nalar dan daya kritis kami. Waktu itu saya tidak terlalu menganggap serius bagian ini, jadi terkadang pertanyaan yang ditulis nggak terlalu penting kayaknya :___))). Setelah lulus, barulah terasa manfaatnya punya jiwa yang kritis. Supaya bisa cermat mengamati keadaan atau permasalahan, sehingga tidak asal atau salah mengambil kesimpulan dan membuat keputusan.

Pada dasarnya, menurut saya, semua ciptaan yang ada di dunia ini pasti memiliki kebaikan atau manfaat. Baik itu makhluk maupun benda. Namun kadang, untuk beberapa hal, kebaikan itu tertutup faktor lain atau memang kadarnya sedikit sekali sehingga dia tidak bisa mendapat penilaian yang baik.

Kalau sudah dihadapkan pada godaan untuk memberi apresiasi yang 'buruk', saya kemudian teringat kembali pesan nenek, "Biarin aja orang lain nggak suka atau jahat sama kita, yang penting kita harus tetap baik sama orang itu."

Memberi apresiasi yang buruk terkadang nggak salah. Tapi kalau banyak orang yang bisa memberi apresiasi dengan positif dan tulus, bukankah dunia akan terasa lebih indah?

Source: Idea Champions

Monday, July 11, 2016

Tidak Ada Sukatali Tahun Ini

Percakapan 1:

"Eh, siang ini lowong nggak? Temenin gw yuk!"
"Lowong sih..tapi masih di kantor.."

Percakapan 2:
"Lagi di rumah ini? Nggak ke mana-mana?"
"Ini lagi jam istirahat Bu, nanti balik lagi ke kantor :__))"


Dua percakapan tadi mewarnai siang saya hari ini. Yang pertama berasal dari seorang teman yang sudah mudik ke tanah tumpah darahnya, Bontang. Yang kedua berasal dari seorang ibu yang berbesar hati anaknya nggak bisa mudik lagi di Lebaran tahun ini. Persamaannya? Sama-sama nggak menyangka di sini H-2 Lebaran masih kerja full time sementara di hampir semua instansi dan perkantoran besar sudah merayakan cuti bersama. Tenang, ini masih di Indonesia kok.