Sunday, April 28, 2024

Panduan Memilih Pengasuh Anak

Sebagai perempuan yang memutuskan memiliki anak dan tetap bekerja di luar rumah, 'pengasuh anak' adalah salah satu hal yang membuat overthinking bahkan sebelum sang baby terlahir ke dunia. Saya dan suami sadar, kami nggak bisa secara fisik hadir 24/7 mendampingi anak kelak, sehingga perlu orang yang bisa dipercaya untuk menjaganya.

Saat hamil anak pertama, di kota tempat tinggal kami belum ada yayasan penyalur baby sitter atau semacamnya. Di sini pun jarang sekali ada jasa ART yang bersedia menginap. Sementara, saya dan suami memilih ART yang bisa menginap supaya lebih tenang dan meminimalisir drama.

Kami beruntung, di dua tahun pertama sejak kelahiran Kakak, ada pengasuh yang bisa 'diimpor' dari kampung halaman. Kita sebut saja 'ART Pertama'. Ibu dan mertua juga bergantian tinggal di rumah untuk menemani sekaligus mengawasi kinerja ART ini. Tapi, mereka nggak full tinggal dengan kami selama dua tahun. Saat saya siap, mereka kembali pulang.

Drama mulai muncul setelah Kakak berusia dua tahun lebih. ART Pertama ingin pulang dan tidak kembali lagi bekerja. Udah mah bilangnya mendadak, nyolot, Kakak lagi aktif-aktifnya, kerjaan di kantor riweuh, saya hamil anak kedua...wah lengkap sudah. Akhirnya daripada ART Pertama semakin drama dan bisa berdampak buruk buat anak, kami memulangkannya. 

Long story short, saya perlu mencari penggantinya segera sebelum anak kedua lahir. Dari kampung halaman udah nggak ada yang bisa 'diimpor', terpaksa mencari dari sumber lain. Tanya sana-sini, sampai browsing ke sana - kemari. Saat itu saya belum kenal yang namanya 'penyalur', 'agen', dan sejenisnya. Sempat kena tipu juga sama agen yang hiih amit-amit jangan keulang lagi ðŸ˜Ī. Tapi saat sadar ketipu itu, sambil mencoba berbesar hati juga siapa tau ini salah satu 'jalan memutar' yang harus ditempuh untuk menemukan pengasuh yang tepat untuk anak. 

Percobaan kedua, menghubungi agen yang kayaknya lebih meyakinkan. Interview, cocok, 'impor'. Kita sebut saja 'ART Kedua'. Sayangnya, ART Kedua ini daya tahannya lebih singkat, cuma 3 atau 4 bulanan deh :))).

Yang ini lebih drama lagi. Sering cerita majikan-majikan dia sebelumnya yang kayaknya 'wow' banget. Artis lah, desainer lah, tinggal di apartemen lah, sering nemenin majikannya syuting dan rempong banget lah bla bla bla. Seru sih dengernya, udah semacam subscribe infotainment yah. Tapi kayak... biar apa Bi cerita begitu ke saya? Saya bisa juga sih kalo mau songong, tapi kan asa teu kudu :))).

Setelah yang kedua pulang, saya cari penggantinya. Ngulang lagi prosesnya dari awal. Cari penyalur/agen lain lagi karena penyalur ART Kedua ini malah 'kabur' saat diminta pertanggungjawaban soal garansi atau ART Pengganti. Beberapa bulan setelah drama ART Kedua ini, si penyalur masih sering nge-WA broadcast nawarin jasa ART/nanny. Hih sori ya ga main sama yang cupu!

Penyalur berikutnya, tampak menjanjikan. Saya menemukan review tentang penyalur ini dari seorang momblogger yang cukup terkenal saat itu. Dari penyalur ini, saya ditawarkan beberapa pilihan sampai menemukan yang benar-benar cocok. Alhamdulillah dapet, bisa bonding banget sama anak, plus cocok juga sama saya. Pas ngintip tanggal lahir di KTPnya, eh ternyata Aries juga toh! Pantesss 😎 #pantesapa.


Mendapatkan ART khususnya nanny yang cocok dengan anak memang udah kayak nyari jodoh. Ditinggal pulang sama mereka pun rasanya kayak agak patah hati. Memang sih, rasanya makin ke sini makin jarang ya menemukan orang yang bener-bener bisa cocok dan betah banget 'ikut' sama kita sampai bertahun-tahun. Tapi, bukan berarti nggak bisa loh menemukan yang cocok.

Berdasarkan pengalaman saya, berikut beberapa hal yang bisa dicek ke penyalur maupun ART langsung sebelum memutuskan menggunakan jasanya.

1. Kenali Kebutuhan
Perkara nyari yang ngasuh anak aja ternyata istilahnya banyak banget, Bun! Ada ART alias Asisten Rumah Tangga, Baby Sitter, Nanny, dan Governess. Beda 'jabatan', beda juga pekerjaannya dan kadang ada penyalur atau calon pekerja yang strict banget cuma mau jobdesk sesuai title-nya aja 🙄.

Kita kenalan satu-satu dulu ya. ART itu adalah orang yang bantu beres-beres/bebersih di rumah. Nyapu, nyetrika, ngepel, masak, standar lah. Yang ber-title ART ini job umumnya nggak 'pegang' anak. Murni ngurus rumah aja. Kecuali yang ada title tambahan, 'ART Momong/ART Serabutan', nah ini bisa diminta pegang anak.

Untuk baby sitter/nanny/governess tugas utamanya adalah mengasuh anak. Dari anak bangun sampai tidur lagi. Termasuk kalau anak terbangun tengah malam karena perlu ganti popok misalnya. 

Lalu bedanya apa? Biasanya, berdasarkan usia anak yang diasuh. Baby Sitter (atau ada juga yang menyebutnya 'Suster Newborn') umumnya bisa mengasuh anak dari umur 0 bulan alias masih orok pisan. Nanny dan Governess mengasuh anak usia balita, mungkin dari sekitar umur 2 tahun. Nanny biasanya mengasuh anak secara umum saja, sementara untuk Governess dituntut punya keahlian lebih selain mengasuh anak misalnya bisa bahasa asing, mengajari anak baca tulis de el el sehingga agak merangkap guru privat menurut saya mah.

Nah, Bunda lagi cari apa? Sesuaikan juga sama budget ya..

2. Cari Penyalur yang (Semoga) Amanah
Setelah ditinggal mendadak oleh ART Pertama, saya sempat hilang arah mencari penggantinya. Butuh banget, tapi nggak mau keliatan butuh. Lagi nyari, tapi nggak mau infoin lowongan pakai akun sendiri.

Saat itu, saya mengerahkan berbagai sumber daya yang ada. Searching di Instagram, Google, join di satu grup komunitas di Facebook, termasuk metode tradisional: minta dicariin kenalan.

Kalau menemukan referensi dari internet, jangan langsung dipercaya. Cek dulu kredibilitasnya, reviewnya, dan segala rekam jejak yang memungkinkan. 

Oya, kalau ada agen atau penyalur yang belum apa-apa udah minta dibayar ini itu, itu red flag banget!!! Belum apa-apa di sini konteksnya adalah belum memberikan data singkat, foto, dan/atau kesempatan ke kita untuk mewawancara calon ARTnya. Udah, cari aja yang lain.

Sebaliknya, kalau ada agen atau penyalur yang memberikan pelatihan atau sertifikasi untuk pekerjanya, agen atau penyalurnya hanya ada di satu kota, kemungkinan instansinya cukup amanah.

3. Wawancara Langsung ARTnya
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, penyalur yang baik tidak selalu berkorelasi lurus dengan calon pekerja yang baik juga. Ada penyalur yang terkonfirmasi kredibel, tapi pekerjanya rada-rada. Atau sebaliknya. Jadi biar aman, usahakan bisa mewawancara calon tenaga kerja yang ditawarkan sebelum deal supaya lebih yakin bahwa calon tersebut sesuai dengan yang kita butuhkan. 


Ketika akan mewawancara calon ART untuk pertama kali, sayapun sempat kebingungan karena data yang saya butuhkan rasanya sudah ada di CV ARTnya. Namun, setelah mampir ke blognya seorang momfluencer yang membuat panduan pertanyaan untuk wawancara ART, saya jadi lebih punya gambaran apa saja yang harus saya pastikan ke calon ART ini saat wawancara.

Panduan pertanyaan untuk wawancara ART akan saya buatkan postingan terpisah ya 😊.

4. Investigasi Calon ARTnya
Di zaman yang semakin mudah menjangkau internet seperti sekarang, rasanya hampir semua kalangan punya profil kedua di dunia maya. Termasuk, mungkin, calon ART yang akan kita hire.

Ini langkah opsional sih..kalau merasa udah percaya dari hasil wawancara atau dengan melihat muka dan CVnya saja, silakan bisa di-skip. Tapi buat saya, langkah ini perlu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dan potensi drama.

Investigasi versi saya terdiri dari tiga metode dan semuanya udah pernah saya coba sendiri.

Satu, menghubungi majikan calon ART sebelumnya. Kalo ARTnya bersedia memberikan nomor majikan sebelumnya, ada kemungkinan kinerjanya baik dan bisa dipercaya sehingga dia nggak ragu memberikan nomor orang yang bisa menambahkan kredibilitasnya. Kalo dia nggak bisa memberikan, cek dulu alasannya. Bisa jadi memang udah nggak nyimpan karena HPnya rusak atau masalah teknis lain, atau karena dia nggak yakin majikan lamanya akan memberikan penilaian positif tentang dia.

Dua, cek namanya di Get Contact (atau aplikasi sejenis lainnya). Ini juga metode lain untuk mengecek kredibilitas calon ART. Hati-hati kalau hasil pencarian di Get Contact menunjukkan nama alay, aneh, mencurigakan, umpatan, atau nama-nama meragukan lainnya. Ini udah yellow flag dan bisa dikonfirmasi ke tahap selanjutnya.

Ketiga, alias tahap terakhir, adalah cek di media sosial. Di tahap ini memang agak sulit sih karena kadang nama di KTP sama nama di media sosial beda. Perlu jam terbang dan terus mengasah kemampuan detektif supaya bisa menemukan akun media sosialnya. Atau kalaupun nggak menemukan media sosialnya, simpan nomor kontak calon ART ini dan coba perhatikan apakah dia cukup sering update status di WA dan seperti apa update-nya. 

Kalau bisa menemukan akun media sosialnya dan sekiranya postingan-postingannya bikin nggak sreg, saran saya, mending cari kandidat lain aja.


Menemukan ART yang cocok (secara kebutuhan dan budget) memang memerlukan ketelitian dan kesabaran. Jadi kalau sudah menemukannya, semoga bisa dijaga dengan baik ya supaya sama-sama betah.

Semoga bermanfaat!

Image Source:
Unsplash
Getty Image
iStock








Wednesday, April 26, 2023

Tips: Serunya Jelajah Museum

 Apa yang terlintas di benakmu kalau mendengar kata ‘museum’? Gelap? Kuno? Sepi? Bagi saya, museum justru bisa menjadi semacam mesin waktu yang akan membawa kita ke masa lampau. Berkunjung ke Museum Geologi, misalnya. Sebagai manusia modern, kita bisa sedikit mengintip kehidupan pada jaman purba di sana. Atau mengunjungi Museum Pos Indonesia yang ada di jalan Cilaki, dekat Gedung Sate. Melalui diorama yang dipajang, kita bisa melihat bagaimana orang jaman dahulu berkomunikasi dengan keluarga atau kerabat yang letaknya jauh dengan menggunakan surat.

Sebagai salah satu kota di Indonesia yang memiliki beberapa museum seru, tidak ada salahnya jika sesekali kita mengunjungi aneka museum yang ada di Bandung. Untuk memeringati Hari Museum Internasional yang jatuh pada 18 Mei ini, Bandung Review akan memberikan tips seru untuk menjelajah museum. Sudah siap?

1. Sesuaikan Minat

Ada baiknya, kunjungi museum yang sesuai dengan minat kita. Misalnya jika tertarik pada hal-hal mengenai seni dan sastra, coba kunjungi Museum Sri Baduga yang ada di kawasan Tegallega. Selain menambah wawasan di bidang yang kita sukai, tips ini juga akan mengusir kesan ‘membosankan’ dari sebuah kunjungan ke museum. Kalau kita berada di lingkungan yang mendukung minat kita, antusiasme untuk belajar juga akan meningkat bukan?

2. Pelajari Sekilas Isi Museum

Ini berguna agar kita mendapat gambaran sekilas mengenai hal-hal yang kita temui. Beberapa museum biasanya juga memiliki program khusus di waktu-waktu tertentu seperti Museum Konperensi Asia-Afrika yang baru-baru ini menyelenggarakan peringatan HUT KAA. Bila tidak menemukan informasinya di internet, coba cari tahu dari orang yang sudah pernah ke museum yang ingin kita kunjungi.

3. Kenakan Pakaian yang Nyaman

Karena sebuah museum umumnya memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk dijelajahi, gunakan pakaian yang akan membuat nyaman. Sepatu misalnya, pilih jenis yang tidak membuat kaki cepat pegal. Agar lebih seru, pakaian yang dikenakan bisa disesuaikan dengan tema museum yang akan dikunjungi seperti memakai baju ala sosialita tempo dulu untuk berkunjung ke Museum KAA atau mengenakan baju safari untuk main ke Museum Geologi.

4. Bawa Barang Seperlunya

Sebelum menjelajah setiap bagiannya, museum biasanya memiliki peraturan bagi pengunjung untuk menitipkan tasnya. Kalaupun tidak, bawalah barang yang diperlukan misalnya kamera. Meminimalisir barang bawaan akan meningkatkan kenyamanan kita saat mengelilingi isi museum.

Beberapa museum mungkin tidak mengijinkan pengunjung memotret koleksi yang ada di dalam atau dilarang memotret dengan lampu kilat. Bila menemui aturan seperti ini, jangan dilanggar karena penggunaan lampu kilat dikhawatirkan dapat mengurangi keindahan koleksi yang ditampilkan.

5. Ikuti Guide

Selain informasi yang tertera pada brosur, kunjungan ke museum akan lebih asyik bila kita dipandu seseorang yang memahami seluk beluk koleksi di dalamnya. Sambil melihat-lihat, wawasan kita pun bertambah. Tidak ada guide khusus untuk menjelajah di dalam museum? Cobalah mengikuti rombongan yang juga sedang mengadakan kunjungan ke museum. Rombongan seperti itu biasanya memiliki pemandu yang juga bisa menceritakan hal-hal unik dibalik aneka koleksi yang akan kita lihat di dalam museum.

6. Bergabung di Komunitas

Ingin menjelajah museum tetapi tidak ada teman? Bergabunglah dengan komunitas! Meski tidak terbatas pada mengunjungi museum-museum yang ada di Bandung, saat ini ada beberapa komunitas yang kegiatan utamanya adalah berwisata ke museum. Menjelajah museum bersama banyak orang umumnya memang lebih mengasyikkan dibandingkan dengan menjelajah seorang diri.

Mengunjungi museum adalah salah satu alternatif untuk menghilangkan penat sekaligus belajar hal baru. Dengan biaya yang terjangkau, kita bisa pulang membawa sejumlah wawasan baru. Jadi, sudah menentukan museum mana yang akan dikunjungi pekan ini? (RY)

 

Published on: Bandung Review

Tips: Membuat Perpustakaan Pribadi

 Masih suka menonton kartun Doraemon? Robot kucing yang datang dari masa depan ini selalu memiliki peralatan ajaib yang membuat kita ngiler ingin memilikinya. Salah satu peralatan favorit dari robot penyuka dorayaki ini adalah Pintu ke Mana Saja. Dengan pintu berwarna pink ini, penggunanya bisa langsung pergi ke tempat yang dituju begitu memutar kenopnya.

Mungkin benda seperti Pintu ke Mana Saja akan sulit diwujudkan keberadaannya di dunia nyata. Namun sebenarnya, kita juga bisa loh ‘pergi ke mana saja’ tanpa perlu kendaraan dan terjebak kemacetan! Caranya, dengan membaca buku. Seperti kata pepatah, ‘buku adalah jendela dunia’. Maka, salah satu cara terbaik mengenal aneka tempat dan negara lain adalah dengan cara mulai membaca.

Dalam rangka memperingati Hari Buku Internasional yang dirayakan setiap 23 April, Bandung Review akan memberikan tips membuat perpustakaan pribadi di rumah. Coba siapkan koleksi bukunya untuk dibuatkan ‘rumah’ baru yang nyaman!

1. Rancang Konsepnya

Pada dasarnya, perpustakaan pribadi tidak selalu membutuhkan ruangan khusus. Sebuah sudut di ruang keluarga atau kamar juga bisa disulap menjadi tempat menyimpan koleksi buku sekaligus membaca yang nyaman. Idealnya, ruangan yang dipilih bersifat tenang dan cukup jauh dari suara ramai sehingga bisa berkonsentrasi saat sedang membaca. Agar semakin meningkatkan minat baca, perpustakaan pribadi juga bisa dihias dengan tema tertentu, misalnya diisi pernak-pernik dari jenis buku favorit atau dicat dengan warna-warna lembut.

2. Penerangan yang Cukup

Karena indera utama yang akan ‘bekerja’ di perpustakaan pribadi adalah mata, pastikan perpustakaan pribadi nantinya memiliki penerangan yang cukup. Cahaya tidak perlu terlalu terang, tetapi bisa membuat mata tidak cepat lelah saat membaca. Ada baiknya lampu yang digunakan adalah lampu neon, bukan lampu pijar untuk menghindari pantulan cahaya pada kertas yang dapat memicu kelelahan mata. Kalau perlu, sediakan lampu portable yang posisinya bisa disesuaikan dengan tempat untuk membaca.

3. Sirkulasi Udara yang Baik

Selain penerangan, aspek yang satu ini juga perlu diperhatikan. Sirkulasi udara yang baik membuat kita nyaman dan betah berlama-lama di perpustakaan pribadi. Buat suhu ruangan yang tidak terlalu lembab, bisa dengan menempatkan AC atau beberapa tanaman hias yang tidak terlalu besar di salah satu sudut perpustakaan pribadi. Dengan demikian, koleksi buku pun akan lebih awet karena terhindar dari timbulnya jamur.

4. Klasifikasikan Buku

Pengklasifikasian buku bisa dibuat secara alfabetis berdasarkan judul atau pengarangnya. Sistem ini akan memudahkan kita mencarinya di lain waktu. Untuk lebih melindunginya, koleksi buku bisa ditempatkan dalam sebuah lemari dengan kaca bening. Bila lemari dirasa terlalu besar, sebuah rak dengan beberapa kotak bisa menjadi pilihan. Dalam satu kotak itu misalnya bisa diisi satu seri komik atau buku-buku karya satu pengarang tertentu. Supaya lebih awet, buku-buku sebaiknya diberi sampul plastik terlebih dahulu sebelum ditata pada rak atau lemari.

5. Membuat Kliping Majalah & Koran

Ini adalah alternatif untuk melengkapi koleksi perpustakaan pribadi. Kalau selama ini berlangganan atau rutin membeli majalah dan koran, tidak ada salahnya dikumpulkan lagi. Siapa tahu suatu saat ada informasi yang perlu dicari dari majalah atau koran itu.

Buku adalah gudang ilmu. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula pengetahuan yang diperoleh. Jangan ragu menjadi kutu buku, banyak membaca itu seru! (RY)

 

Published on: Bandung Review

Monday, May 30, 2022

Zea Activity Zone, Playground Seru di Bontang

Setelah cuti panjang ke Jawa bulan lalu, anak-anak saya menjadi semacam ketagihan bermain di playground. Saat itu, saya dan suami memang mengajak mereka bermain di playground sesekali. Selain untuk melatih keberanian mencoba aneka permainan yang ada, kami berharap mereka bisa mengembangkan imajinasi dan belajar bersosialisasi. Minimal main 'bareng' dengan anak sebaya yang nggak dikenal.

Di Bontang sendiri, sebenarnya sudah ada playground yang sepertinya cukup nyaman. Namun, kami belum berani membawa anak-anak karena keburu terkendala pandemi. Walaupun sempat zona kuning, rasanya masih ada potensi virus aja di tempat indoor seperti itu. 

Playground ini berada di lantai dua dari toko mainan Zea Edu Toys. Meski lokasinya di dalam ruko, mainan yang disajikan cukup beragam dan nggak kalah seru dibandingkan playground yang ada di dalam mal hehe.

Kami ke sana hari Sabtu, menyesuaikan dengan jadwal liburnya sang Ayah. Kebetulan, saat itu dari pagi cuacanya mendung dan sempat hujan cukup deras di Bontang. Ketika hujan sudah mulai reda, kami berangkat. Jadilah di sana sepi dan belum ada anak lain yang main.

Nilai plus dari playground ini adalah sistem pembayarannya yang hanya menghitung jumlah anak. Biasanya kan pendamping juga dihitung dan dibatasi ya.. kemarin mah enggak. Nggak tau apa karena lagi sepi ya.. hehe. 

Pricelist as per Mei 2022


Secara umum, di playground ini terdapat empat zona yaitu Activity 1, Activity 2, 'Food Court', dan 'Education'. Masing-masing memiliki ukuran yang nggak terlalu luas, tetapi cukup nyaman untuk anak bisa bereksplorasi. Saya sempat melihat tulisan di salah satu dinding bahwa kapasitas maksimum adalah 5 anak, tapi kurang tau juga apakah itu maksudnya kapasitas total di playground ini (karena masih ada pandemi) atau kapasitas total di setiap zona.

Zona Activities yang nyaman dan aman


Di Activity 1, permainan utamanya adalah berseluncur di atas kolam bola. Untuk mencapai papan seluncur, anak harus berjalan melewati beberapa rintangan. Di sela rintangan itu, ada juga mini trampolin yang bisa digunakan sambil menunggu giliran.

Berjalan di atas terowongan tali dan jembatan ayun

Perosotannya ada dua, meminimalisir rebutan


Di sebelah kiri Acitivity 1, terdapat area yang saya sebut Activity 2. Di sini permainannya lebih memperkuat lagi motorik kasar anak karena ada trampolin yang berukuran lebih besar, ring basket dan bolanya, serta panjat tebing mini.

Pendampingnya bisa ikutan lompat-lompat sih ini :))

Lanjut, ke Zea Food Court. Saya sempat kecele, kirain ada food court beneran atau di area itu anak-anak boleh sambil makan. Ternyata, area yang dimaksud adalah kolam berisi kacang hijau kupas yang di dalamnya ada beberapa mainan.

Jadi pengen bikin juga di rumah :))

Area terakhir yaitu 'Education', nggak sempat saya foto karena keburu ada pengunjung lain yang lagi duduk di situ. Sebagai gambaran, di area ini ada beberapa meja dan kursi serta buku-buku yang bisa dibaca di tempat. Ada juga buku dan snack yang dijual. 

Zea Activity Zone ini saya rekomendasikan banget buat yang lagi nyari playground ramah anak di Bontang. Tidak terlalu besar, tapi juga nggak kekecilan sehingga anak-anak nggak cepat bosan. Fasilitasnya pun memadai, ada AC, toilet, dan tempat shalat. Plus, adanya pembatasan jumlah pengunjung membuat anak bisa mengeksplor permainan yang ada dengan lebih puas.

Namun, jangan lupa untuk tetap mewaspadai pergerakan si kecil ya! Kadang anak saya masih kurang pede kalau merasa tidak diawasi atau ada hal-hal yang berpotensi menyebabkan celaka (dalam kasus saya, anak saya diserobot anak laki-laki di area Acitvity 1 😠).

Selamat bermain!





This entry was posted in

Tuesday, March 29, 2022

2021 in Review

Setengah tahun vakum nge-blog, sekarang tiba-tiba membuat year in review aja! Hehehe.

Sebelum menulis ini, saya sempat flashback membaca tulisan serupa di tahun 2020. Setelah banyak drama, Alhamdulillah di 2021 kehidupan lebih membaik dan cerah ceria walau terkadang ada sandungannya juga.

Dan, inilah perjalanan 2021 versi saya.

1. 'Inovasi' Ala-ala
Tahun 2021 masih diwarnai dengan virus Covid-19 yang trendingnya naik turun. Biasanya sih, kalau dekat musim liburan terus naik. Tapi, thanks to corona lagi, di tahun ini saya punya kesempatan membuat beberapa project sederhana yang berkaitan sama pekerjaan.

Project pertama adalah 'Jastip Tojas'. Sesuai namanya, project ini memungkinkan warga komplek untuk nitip belanja di minimarket kesayangan kami semua. Jastip Tojas lahir dari situasi pandemi yang saat itu mengharuskan banyak orang isoman (isolasi mandiri) atau karaman (karantina mandiri) dan nggak bisa berbelanja kebutuhannya. Plus, komplek dalam keadaan 'keterbatasan akses' sehingga kurir dari luar nggak bisa masuk dengan leluasa.

Sebagai orang yang nggak mau ribet, project ini nggak melibatkan banyak orang. Awalnya hanya ada 1 orang sebagai admin dan yang merekap pembayaran, dan 2 orang sebagai kurir. Mereka semua anak magang. Setelah dedek dedek itu selesai masa magangnya (tapi pandeminya ga selesai-selesai), saya diminta tetap melanjutkan project ini. Akhirnya saya mengajak satu mitra kerja yang bisa diajak kerja sama. Dia berperan sebagai kurir (termasuk angkat-angkat galon ke rumah :)) ) dan saya menjalankan sisanya.
 
Project ini pernah saya presentasikan di tugas akhir mata kuliah Business Leadership. Mungkin, project sederhana yang berdampak cukup luar biasa ini jugalah yang membantu saya mendapatkan predikat 'Best Achievement' di mata kuliah tersebut. 

Project kedua, Sedekah Sampah. Targetnya masih di dalam komplek dan latar belakangnya juga masih terkait kerjaan. Dari project kedua ini, lahirlah mini project lainnya yang ternyata seru juga dan akan saya ceritakan di lain kesempatan: RT Darling! Challenge dan Declutter Yuk! Bontang.

RT Darling! Challenge


2. Skills Level: Up!
Sejujurnya, di tahun 2021 saya sempat merasa stuck. Mungkin lelah dengan kondisi pandemi juga ya. Semacam, mau marah tapi ngutruk ke siapa. Bosan juga dengan beberapa hal karena setiap tahun harus menghadapi sesuatu yang sama.

Di tengah kejenuhan dengan segala penyebabnya, saya tersadar tahun ini harus bangkit. Harus meningkatkan kompetensi diri meski nggak ada yang men-sponsori. 

Jadi, di tahun 2021 akhirnya saya bisa mengikuti Sertifikasi Strategic PR dari salah satu lembaga sertifikasi yang sudah memiliki lisensi BNSP. Mumpung masih pandemi, bisa sertifikasi sambil duduk manis di Bontang ya kaaan~
 
Pilihan kompetensi untuk sertifikasi


Selain itu, saya juga sempat ikut kursus gratis dari Google tentang Digital Marketing. Ini ada e-certificatenya juga btw, tapi saya masih belum lolos passing grade hahaha. Buat yang mau belajar digital marketing dari basic, bagus loh itu materinya. Belajar teori dan sambil dikasih kuis di akhir setiap materi.

Masih banyak lagi webinar, seminar, apapun lah metode pembelajaran online yang saya ikuti sepanjang 2021. Sebagian besarnya memang masih terkait dengan CSR sih, tapi alhamdulillah banyak berkahnya. 

Oh iya, sepanjang 2021 ini, saya juga dipercaya mengisi in house training tentang public speaking dan menjadi narasumber public training perusahaan untuk topik CSR & PROPER. Buat saya, kedua kesempatan ini juga sekaligus mengasah skill saya di bidang lain: public speaking.

3. Cvd Attacked!
Yhaaa sebagaimana jutaan manusia lain, akhirnya si virus rese ini menyerang saya. Kayaknya ini pas gelombang kedua ya, tapi saya kena pas trennya mulai turun. Jadi, alhamdulillah dapat kamar karantina di apate. 

Saya memilih karantina di apate karena (alhamdulillahnya lagi) anak yang besar dan salah satu ART dinyatakan negatif PCR. Sisanya, positif ðŸĪŠ. Ke-positif-an saya ini juga menjadi pemecah rekor karena di departemen saya akhirnya ada yang kena hahaha. Jangan tanya dapet dari mana, saya juga nggak tau. Malah awalnya denial ngerasa ngedrop karena emang lagi PMS pun.

Kesempatan 'staycation' selama hampir tiga minggu ini cukup berpengaruh pada beberapa hal dalam hidup saya. Jadi ingat untuk lebih bersyukur lagi pastinya. Bersyukur masih diberi kekuatan dan pertolongan dari banyak pihak untuk menjalani masa perawatan.

4. Pindah
Menjelang akhir 2021, saya dan suami memutuskan untuk pindah ke rumah dinas yang baru. Dengan ukuran yang lebih luas, kami berharap anak-anak bisa lebih mengeksplor lingkungan sekitarnya.

Sebenarnya, kesempatan untuk pindah sudah ada sekitar 2 atau 3 kali. Yang sebelum-sebelumnya, nggak mau pindah karena belum siap aja. Terutama bagi saya secara mental. Selain hoream riweuh pindahan, rumah lama itu adalah saksi saya bertumbuh di Bontang. Mulai dari masa-masa sendiri, sampai sekarang punya bernyit dua :').

Rupanya, Semesta mendukung keputusan pindah rumah saya ini. Saking mendukungnya, kerjaan saya pun (di)pindah ke bagian yang mengurusi fasilitas di perumahan dinas pekerja :__))).

A whole new world, banget. Saya, yang selama ini takut kalau mendapat posisi di luar kemampuan, seperti dipaksa keluar dari zona nyaman. Ya yang sebelumnya ini nggak nyaman banget gimana juga sih pada awalnya, tapi seenggaknya transisinya smooth lah hahaha.

Yang ini, bener-bener jauh. Secara latar belakang akademis, nonakademis, maupun tanggung jawabnya. Gimana coba, saya yang backgroundnya komunikasi terus harus menilai apakah rumah yang sudah diperbaiki itu dicatnya benar-benar dua kali atau sekali aja? Yang sebelumnya lagi semangat menyelami dunia PR (Public Relations), tiba-tiba dihadapkan sama aneka tools dan material yang saya pun nggak paham fungsi dan bedanya :)))). Biasa diminta me-review tulisan atau video, sekarang diminta memutuskan apakah alat elektronik yang rusak perlu diperbaiki atau diganti aja.
 
Biasa ngecek EYDnya tulisan udah bener atau belum, sekarang ngecek tanaman yang ditanam udah tumbuh segimana :')


Pada akhirnya, kepindahan ini terutama yang di kerjaan, disikapi dengan santai dan tetap berusaha memberikan yang terbaik. Ada kerjaan yang nggak bisa bener? Yaudah, coba lagi. Ada subordinate yang susah diatur? Yaudah coba ingetin. Sekali, dua kali nggak mempan, bye!
 

Itulah catatan perjalanan di 2021. Lebih rame dibandingkan tahun sebelumnya yang monoton banget dan lebih menantang. Terima kasih untuk semua support dan relasi yang baik selama tahun lalu! Semoga 2022 bisa lebih banyak menciptakan kebaikan dan kenangan indah 😊.


Monday, June 21, 2021

How MBA Changed My Weekend: Tugasnya Nonton "Crimson Tide"

Minggu ini, saya memulai perkuliahan yang sudah masuk semester keempat. "Sebentar lagi selesai," kata Kaprodi saat melakukan sosialisasi tugas akhir dan diamini saya dalam hati.

Berbeda dengan tiga semester sebelumnya, kali ini para mahasiswa dibebaskan memilih mata kuliah sesuai minat (dan bakat?) masing-masing. Bagi mahasiswa yang menghindari itung-itungan rumit seperti saya, tentu mata kuliah di bidang Human Capital dan Marketing my darling adalah pilihan terbaik. Sayangnya, saya nggak jodoh sama jadwalnya kelas-kelas Marketing. Untung masih bisa ikut kelas Human Capital.

Di pertemuan perdana kelas pilihan ini, mata kuliah pertama adalah Business Leadership. Seruu..sesuai ekspektasi (nggak ada perhitungan yang rumit haha!), bahkan melebihi sebenarnya. Selain materinya mudah dicerna, wawasan saya beneran bertambah soal leadership dalam konteks dunia bisnis terutama. Plus, ada self assesmen juga apakah saya sudah bisa menjadi leader yang baik (tentuuuuuuuu..... belum 😂).

Pengalaman sebelumnya di kelas Human Capital, tugasnya 'unik'. Nggak sekedar membahas kasus atau membuat analisis situasi. Kami saat itu sempat dibagi menjadi tiga kelompok dalam satu kelas dan tugasnya juga dibagi tiga: membuat dua webinar dan mengelola satu akun Youtube. Saya, pilih yang mengelola Youtube.

Kali ini, tugasnya nggak kalah seru: menonton film. Bukan sembarang film, melainkan yang ada hubungannya dengan leadership.

Judulnya 'Crimson Tide'. Bukan film baru pastinya, dan entah kapan rilis di bioskopnya. Tapi ternyata, ada yang udah pernah nonton loh 😂 Dengan berbagai cara, akhirnya bisa juga nonton film ini secara utuh dan nyaman (thanks to My LNG 💖).

Jadi, film ini tentang apa sih?

Film ini bercerita tentang pasukan Angkatan Laut AS yang punya misi tertentu dan sebagian besar aktifitasnya dilakukan di dalam kapal selam. Alih-alih fokus pada strategi yang dilakukan untuk mencapai misi tersebut, kita akan diajak melihat perbedaan gaya kepemimpinan dari kedua pemimpin pasukan yang ada. 

Sebenarnya, kapal selam ini dipimpin eh seorang (sebut saja) komandan dan sebelum berangkat, ada orang baru yang ditugaskan untuk mendampingi komandan itu. Kita sebut saja dia wakil komandan. Disebut baru, karena wakil komandan ini belum pernah terlibat misi di kapal selam itu sementara sang komandan udah 'khatam banget' sama kapal selam ini.

Singkat cerita, masalah yang dihadapi nggak hanya bagaimana mereka mengalahkan musuh dari eksternal, tetapi juga dari dalam pasukan itu sendiri. Di internal mereka pun ada beberapa perbedaan pandangan dan pendapat untuk menyelesaikan masalah, dan kalau nggak segera diatasi malah justru membuat masalah baru. 

Ketika menonton (yang untungnya ada subtitle), saya kira tugasnya nanti akan dikaitkan dengan strategi problem solving. Gimana pemimpin memecahkan masalah yang ada, yang kadang bener tapi pernah juga malah memperparah.

Besoknya di kelas, ternyata diskusi lebih diarahkan kepada 'Situational Leadership'. Bahwa pemimpin nggak selamanya benar dan harus bertindak. Bahwa anak buah nggak selamanya benar juga :)) tapi suatu saat harus berani mengambil keputusan untuk bertindak secara sistematis dan terukur. 

Jadi, apa itu sebenarnya 'Situational Leadership'? 

Bersambung di postingan selanjutnya ya.. :)

Sambil nunggu, tonton deh filmnya. Menarik kok, bahkan untuk orang yang nggak suka nonton action macem saya hehe.




Thursday, June 10, 2021

How MBA Changed My Weekend: Best Achiever, Checked!!

Beberapa hari lalu, di grup WA angkatan saya ramai karena bagian administrasi SBM ITB mengumumkan para peraih 'Best Achievers' untuk mata kuliah yang diambil di semester empat ini. Ada enam mata kuliah yang diambil oleh kelas Bontang dan dari keenam mata kuliah itu masing-masing ada satu atau lebih peraih 'Best Achievers'nya. 

Dari keenam mata kuliah itu, saya hanya mengambil satu. Buat saya, kebebasan memilih mata kuliah ini sendiri sudah menjadi 'achievement' karena saya nggak harus mengikuti kuliah yang penuh dengan angka dan sobat ambis. Ya, di semester ini memang mata kuliahnya bisa dipilih sesuai minat dan bakat sehingga saya sih nyadar diri aja hahaha. Yang cukup ikut bikin senang, dua dari beberapa peraih best achievers itu berada dalam satu sindikat (kelompok diskusi) yang sama dengan saya di mata kuliah yang umum. Lumayan :') #lumayanapaaa.

Di semester empat ini, saya memilih mata kuliah yang sekiranya bisa saya ikuti dengan benar. Untungnya di kelas lain, tepatnya kelas Batam, ada dibuka kelas non hitung-hitungan seperti Business Leadership (BusLed) dan Leading and Managing Organizational Change (LMOC). Di kelas Batam ini, pesertanya terdiri dari berbagai latar belakang profesi dan perusahaan. Seru juga jadinya kalau diskusi, mendengar banyak insight dari perusahaan yang jauh berbeda kulturnya dengan oil & gas. Dan jadi pengen pindah ke Batam juga deh buat opsi.

Lalu tiba-tiba, pagi ini dengan mata yang masih mengantuk, saya melihat jam di HP. Sekilas, ada notif WA dari bagian administrasi SBM ITB dan yang kebaca sama saya cuma "Selamat ya, Bu".

Mata saya langsung melek sepenuhnya. Kantuk hilang. Begitu buka WA, ternyata ada gambar ini:

 

WHOAA!!! Nggak salah kan ini?? 😁😁😁 Excitednya sementara di dalam hati aja dulu takut anak kebangun.

Seperti mata kuliah lain pada umumnya, di mata kuliah business leadership ini target saya standar banget: yang penting lulus. Syukur kalo bisa dapat 'A' karena mata kuliah ini dipilih dengan kesadaran sendiri tanpa paksaan jadi harusnya saya bisa lebih bertanggung jawab. Pun ketika kuliah, masih sempat meng-quote beberapa kalimat atau insight menarik (yang bisa dibaca di highlite IG saya: MBA Lyfe).

Business Leadership ini adalah mata kuliah pertama di semester empat. Artinya, selain beradaptasi dengan materi dan dosen, saya juga harus beradaptasi dengan 'teman-teman sekelas' yang lebih beragam dibandingkan LMOC. Kalau dipetakan, porsi mahasiswa di kelas ini cukup seimbang: 1/3 dari kelas Batam (yang backgroundnya udah beragam mulai dari korporat sampai pemerintahan), 1/3 dari kelas KPC (yang backgroundnya sesuai nama kelasnya, pertambangan), dan 1/3 dari kelas Bontang (walaupun jumlah peminatnya cukup untuk bikin satu sindikat aja :)) ). 

Sesungguhnya saya juga baru tau ada 'reward' semacam Best Achievers ini. Kayaknya di tiga semester sebelumnya nggak pernah ada. Apa mungkin program ini baru ada atau karena di semester ini achieversnya memang menonjol banget dibanding yang lain? Apa di semester sebelumnya pencapaian rang-orang banyak yang standar (standar A :') ) jadi belum ada program ini? 

Entahlah :)) Yang jelas kalau buat saya, terharu banget bisa diberi apresiasi semacam ini. Jadi semacam self reward buat diri sendiri selain selalu bersyukur setiap melihat transkrip nilai karena nggak ada nilai 'C'. Semoga semua ilmu dalam Business Leadership (dan matkul lain pastinya :)) ) bisa saya terapkan di pekerjaan ataupun kehidupan sehari-hari. Minimal kalau ada asesmen atau apalah, sertifikat ini nanti bisa dilampirkan di CV ya.

Terima kasih ITB! Terima kasih sobat BusLed dan sobat cumlaude ku!